Ada Asa di Situ Cileunca

Foto : Khairuddin Safri

Teks : Hesty Ambarwati

Lepas dari PAUD Ceria di kampung Tangulan, Dago Pojok. Kami meluncur ke Pengalengan. Melalui jalan yang dengan sukses bikin Honda Jazz-nya kak Idzma dari Kidzsmile berkali-kali membentur jalan dibagian bawahnya. Pada titik ini saya doakan semoga Kak Idzma segera mendapatkan Defender idamannya, biar ga lagi-lagi blusukan pake Honda Jazz.

Masuk melalui tempat pemerahan sapi milik PT Ultra Jaya, tapi orang kenalnya dengan sebutan Alba. Jalan tanpa aspal, dengan batu yang besar-besar, berdebu dan bau sapi sukses membuat saya mabok. Tapi itu semua terobati saat melihat pemandangan Situ Cileunca yang indah dramatis. Kami sampai lokasi tepat saat adzan maghrib berkumandang. Perkampungan itu gelap gulita. Rencananya kami akan bermalam di rumah Bu Rina, kepala sekolah sekaligus guru di TK Pulosari. Suasana yang gelap membuat kaki saya melangkah dengan instingnya sendiri. Melewati jalan berpasir, kandang kambing, dan kebun labusiam. Paduan sempurna untuk saya berkali-kali membaca “a’udzubikalimatillahi taammati minsyari ma kholaq”. Malam itu kami disambut dengan senyum hangat (sehangat teh hangat) dari Bu Rina dan suaminya.

22 September 2015

Subuh-subuh, dengan cara bernafas layaknya orang Jepang :p. Dengan bersemangat kami mengunjungi Situ Cileunca yang indah dan dramatis. Tak jauh dari situ ada sebuah taman kanak-kanak yang didirikan oleh Bu Rina. Paduan sempurna untuk anak belajar dari alam. Sekolah Alam manapun pasti kalah dengan TK Pulosari. Bagaimana tidak? TK ini dikelilingi oleh perkebunan sayur, arben, strawberry, Situ Cileunca, peternakan kambing milik warga, dan pemerahan sapi milik perusahaan besar.

TK Pulosari didirikan oleh Bu Rina pada tahun 2008. Saat itu, beliau masih menjadi guru PNS pada sekolah negeri di Sukasari Bandung. Bayangkan, setiap hari, beliau harus bolak-balik Bandung – Pangalengan untuk mengajar. Militansi yang luar biasa. TK Pulosari adalah satu-satunya TK di pemukiman warga ini. Semoga pendidikan usia dini mampu mengentaskan masalah-masalah sosial yang ada didalamnya. Dari mulai kemiskinan hingga pernikahan dini karena dipaksa keadaan.

Pagi itu, kami disambut oleh seorang anak dengan mata yang cantik, dan neneknya yang sedang sibuk menyapu halaman sekolah. Namanya Delfi, setiap hari ia diantar neneknya ke sekolah. Sebelum seluruh murid hadir, nenek Delfi membantu Bu Rina membersihkan halaman sekolah. Lagi-lagi saya lihat pemandangan “Anak, guru, dan orangtua tumbuh bersama”, kontribusi sederhana dari seorang wali murid.

Rencananya, pagi itu Kidzsmile akan berbagi ilmu parenting kepada orang tua siswa. Yup, ternyata forum ini rutin diadakan sebulan sekali. Antusias orang tua pun luar biasa. Sebelumnya saya pikir kajian parenting hanya menarik dimata masyarakat kelas menengah ke atas, ternyata ibu-ibu buruh tani pun tidak kalah antusiasnya saat mengikuti kelas ini. Rata-rata pendidikan mereka hanya sampai SD atau SMA paling tinggi. Mau untuk memahami dan mengaplikasikan ilmu-ilmu parenting adalah prestasi luar biasa. Ternyata keingingan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak mereka adalah hal yang niscaya. Untuk datang ke kelas parenting ini saja, mereka harus meliburkan diri dari aktivitas perburuh tanian. Artinya, akan ada pendapatan rupiah yang berkurang.

“Jadi bu, anak-anak suka baca teh karena mencontoh, sok..ibu-ibu suka baca teu?” kak Idzma membuka kelas itu dengan pertanyaan. Ibu-ibu pun menjawab dengan senyum dan tawa nu ngagakgak (ngartos teu? :p). Suasana kelas parenting di kampung bersama ibu-ibu buruh tani itu unik. Klo di seminar-seminar parenting, orang tua akan datang dengan outfit yang berlomba2 menunjukkan status sosialnya, maka disini, kita akan mendapati ibu-ibu dengan baju kebanggaannya: daster.

Sebelum orang tua rutin mengikuti kelas parenting, makian, kata-kata kasar, pukulan dan rentetan luapan emosi yang destruktif lainnya adalah pemandangan sehari-hari. Perlahan, mereka berusaha memperbaiki sikap. Setidaknya, mereka lebih menahan diri dalam meluapkan “amarah”. Paradigma “sekolah biar ga banyak jajan di rumah” perlahan bergeser “sekolah untuk belajar”. Ya, siapapun dapat berubah, siapapun dapat menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka, bahkan untuk buruh tani sekalipun.

Balik lagi ke Bu Rina. Berkali-kali saya mengagumi beliau. Pada tahun 20   beliau memutuskan untuk berhenti mengajar di Bandung dan menetap di Pangalengan, fokus mendidik para murid di TK Pulosari. Besaran Gaji bukanlah orientasinya, toh apa yang diharapkan dari iuran orang tua 10.000/ bulan?. Mendidik anak dan investasi akhirat cukup menjadi alasannya untuk tetap bertahan hingga hari ini.

TK Pulosari hidup dari gotong royong orang tua siswa, dan penghasilan beliau serta suaminya mengelola kebun Arben, tomat dan penyewaan perahu di Situ Cileunca. Ketulusan hati yang membuat saya lagi-lagi malu.

Bagi mereka, berbuat kebaikan itu analoginya seperti buang hajat tidak bisa ditahan ataupun ditunda-tunda jika panggilan datang :p. Berbuat baik saja tanpa pikir panjang, dengan apa yang mereka punya.

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 04

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 07

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 06

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 018

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 011

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 09

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 012

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 017

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 010

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 013

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 01

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 014

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 015

PAUD Pulosari_Khairuddin Safri 016

 

 

Mutiara di Dago Pojok

Bagaimana cara melembutkan hati? salah satunya adalah bertemu dengan para pemberdaya. Ketulusan hati mereka dalam berbagi cukup membuat saya kembali “lembut”.

Semenjak saya dan suami memutuskan nyemplung di dunia foto komersil. Hari-hari kami dipenuhi dengan motret dan editan. Motretnya sih sebentar, ngeditnya sebulan. Sampai tidak ada weekend pada freelancer seperti kami. Satu sisi kami bersyukur atas segala rezeki yang Allah limpahkan kepada keluarga kami. Namun di sisi lain ada hal yang membuat hidup kami “kosong”. Pada satu titik saya sampai berpikir, bukankah memutuskan menjadi fotografer freelance adalah agar kami dapat memiliki waktu yang fleksibel untuk blusukan ke daerah, membuat photo story tentang para pemberdaya?. Dan di tengah-tengah kejenuhan, saya berkata kepada suami: “mas,tampaknya kita butuh liburan. Garap photo story yuk”.

Dan, ga pikir lama-lama, dadah-dadah sejenak sama deadline dan editan foto yang seabrek.

Senin, 21 September 2015

Pagi yang indah di Bandung. Dua tahun sudah saya tidak menghirup udara Bandung, dan merasakan air Bandung yang dingin. Rindu.

Sebelum ke Pengalengan, Kak Idzma mengajak kami berkunjung ke PAUD binaan Kidzsmile, PAUD Ceria di Kampung Tangulan, Dago Pojok,  PAUD ini didirikan oleh Bu Rahma Kamarullah. Setibanya di Dago Pojok, kak Idzma menunjuk sebuah gedung bertingkat “tuh PAUDnya”. “Lah bangunannya bagus gitu kak, bertingkat” jawab saya. “Itu Masjid kali, PAUDnya numpang disana” kata Kak Idzma.

Walau tanpa plang nama, PAUD ini sudah eksis di Dago Pojok sejak tahun 2008. Dan di ruangan 1,5 x 6 meter serta 2,5 x 5 meter mereka beraktivitas. Sejujurnya, ruangan itu terlalu sempit untuk aktivitas sebuah PAUD dengan anak-anak yang super aktif. Tapi nyatanya, Bu Rahma, Bu Ira dan 15 siswa lainnya tetap bahagia belajar disana.

Di depan pintu, ibu-ibu siswa sedang asyik menempel foto-foto kegiatan PAUD Ceria di atas karton. Tampaknya untuk mading sekolah. Menarik, jika biasanya orang tua yang mengantar siswa asik ngerumpi, orang tua disini justru ikut “membangun” sekolah, walau dengan caranya yang sederhana: membuat mading sekolah.

Kemudian kami bertemu dengan Bu Rahma. Sosok Bu Rahma bagi saya adalah sosok yang “keras kepala”. Justru keras kepala ini yang membuat PAUD Ceria bertahan hingga 7 tahun tanpa dana pendidikan dari pemerintah ataupun donatur tetap. Orang tua siswa membayar semampunya, yang tidak mampu digratiskan. Dari 15 orang siswa, hanya 4 siswa yang mensubsidi 11 siswa lainnya. Tak perlu ditanya bagaimana cara membayar gaji guru, kegiatan belajar di PAUD tetap berjalan saja sudah bersyukur, karena anak-anak memang prioritas beliau.

Bu Rahma adalah sosok yang sederhana, beliau tidak hidup dalam gelimang harta, hanya seorang Ibu Rumah Tangga yang sesekali mengajar privat membaca dari rumah ke rumah untuk menyambung hidup. Kepedulian terhadap anak-anak sekitar rumahnya-lah yang membuat ia melakukan semua ini hingga saat ini.

Pada tahun 2008, di sekitar tempat beliau tinggal tidak ada sama sekali PAUD. Anak-anak usia PAUD pada masa itu beraktivitas seadanya, dilepas orang tua bermain sebebasnya. Melihat kondisi ini, Bu Rahma akhirnya membidani lahirnya PAUD Ceria. Paham dengan kondisi warga yang hampir sebagian besar berasal dari golongan ekonomi pra sejahtera, maka ia-pun tak menuntut apapun dari mereka. Orangtua mau menyekolahkan Anaknya  di PAUD-pun patut disyukuri.

Dipojokan, saya mengamati situasi belajar di kelas. Bu Rahma dan Bu Ira dengan energiknya menghandle 15 siswa. Dan dua diantaranya adalah anak berkebutuhan khusus. Ada Fadhil yang cerdas, menjadi tunarungu tidak membuat ia malu untuk belajar dan bergaul. Ada Jumi, gadis 9 tahun yang mengaku berusia 3 tahun. Mestinya Jumi sudah duduk di kelas 3 SD, namun karena kondisinya, Sang Ayah “malu” menyekolahkannya, parahnya sang ayah melarang Jumi sekolah. Namun diam-diam, Jumi diantar oleh ibunya ke PAUD Ceria tanpa sepengetahuan ayahnya, setiap pagi dan harus pulang sebelum ayahnya pulang pada pukul 12 siang. Alasannya sederhana “daripada Jumi ga sekolah, mending sekolah disini lagi aja teh”.

Disela-sela pembelajaran, saya “ngerumpi” dengan para orangtua. Banyak cerita yang mereka sampaikan dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya teh, saya mah pengennya Bu Rahma sama Bu Ira terperhatikan kesejahterannya. Da bayangin, ga semua siswa disini bayar. Uang darimana coba Bu Rahma buat ngegaji guru. Tapi hebatnya, mereka teh tetap profesional mengajar, ga ngebeda-bedain”. Oh iya, saya juga dapat bocoran, kalo ternyata…Orang Tua juga punya kelas Parenting kerjasama dengan Kak Idzma. Tak hanya itu Ilmu parenting yang didapat Bu Rahma dari seminar-seminar pun tak lupa dibagikan kepada para orang tua. Saya melihat di PAUD Ceria ini, antara guru, anak, dan orang tua tumbuh bersama.

Matahari mulai meninggi. Seharian membersamai aktivitas beliau membuat saya bertanya kepada beliau: “bu, apa sih yang membuat ibu tetap bertahan sampai sekarang?”. Allah dan Anak-anak. Saya pun hanya mengangguk, ya saya juga pernah merasakan hal yang sejenis dulu, saya tau bagaimana perasaanya. Keluguan anak-anak, sapaan hangat mereka setiap paginya, dijemput oleh anak-anak di pintu rumah…berjalan bersama menuju sekolah, senyumnya, tingkahnya, dan keingintahuan mereka yang besar terhadap apa saja. Ya, saya rasa itu adalah alasan yang cukup untuk beliau tetap bertahan. Bertahan selama 7 tahun, saya yakin pasti bukan tanpa rintangan. “Anak sulung saya selalu bilang ke saya: mah, tenang aja apa yang mamah lalui itu cuma hujan rintik-rintik bukan badai. Dan setelah hujan rintik-rintik itu reda, pelangi pasti akan datang. Kata-kata itu yang bikin saya tetap kuat menghadapi segala ujian”. Tutup beliau siang itu.

PAUD Ceria dan Dago Pojok menurut saya adalah narasi tentang kesenjangan sosial. Dago Pojok dengan segala keelitannya. Bule berseliweran disana sini. Dan ada sebuah tempat belajar yang berusaha untuk tetap bertahan, memberikan pendidikan terbaik, dengan biaya terjangkau bagi anak negeri. Di ruang 1,5 x 4 meter mereka belajar dengan penuh keceriaan.

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 07

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 01

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 02

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 03

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 04

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 012

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 05

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 08

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 09

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 011

PAUD Ceria Dago_Khairuddin Safri 010

Jembatan Harapan

JEMBATAN HARAPAN

Foto: Khairuddin Safri

Teks: Hesty Ambarwati

Masih ingat cerita tentang Jembatan “Indiana Jones” di Lebak Banten yang sempat heboh tahun 2012 lalu?. Seutas tali dari jembatan yang sudah roboh terbentang menghubungkan desa yang satu dengan desa lainnya. Di atas seutas tali inilah anak-anak melintas menuju sekolahnya, bergelantungan, tanpa pengaman, setiap hari. Bahkan untuk menuntut ilmu, anak negeri  harus melalui jalan yang sesulit itu.

Berita tentang jembatan ambruk membuat Muhammad Arif Kirdiat, alumni Fakultas Hukum Universitas Tirtayasa Serang ini tergerak membentuk komunitas Relawan Kampung pada tahun 2012. Tujuannya sederhana saja “membangun jembatan untuk warga”. Agenda pertama Relawan Kampung adalah membangun kembali jembatan “Indiana Jones”. Melalui jejaring social ia mengumpulkan dana untuk pembangunan, tak disangka hanya butuh beberapa minggu saja untuk dana terkumpul. Ya, manusia-manusia baik pasti menemukan jalan kebaikannya.

Tiga tahun sudah Relawan Kampung hadir dan membangun 39 jembatan di pelosok negeri. Tak hanya itu bersama warga kampung dan para donatur mereka telah membangun 9 sekolah, 2 perpustakaan, dan mendampingi 78 bayi penderita gizi buruk di Banten untuk mendapatkan perbaikan gizi dan pengobatan.

Berbagai penghargaan telah diterima oleh pria yang kini mengelola jasa travel di Banten ini. Penghargaan tersebut antaran lain, Tokoh Jembatan Harapan – Eagle Award Metro TV 2012, Kandidat SCTV Award, Pahlawan Pilihan Pemirsa RCTI 2013, Kandidat Seputar Indonesia Award 2013, Tokoh Sosial Koran SINDO 2014, dan Satya Lencana Kesetiakawanan Sosial Republik Indonesia pada tahun 2014.

Baginya adalah kebahagiaan saat melihat masyarakat di sekitar jembatan yang ia bangun lebih mudah saat mengakses pendidikan untuk anak-anaknya, mempermudah jalur ekonomi warga dan menjembatani warga yang ingin ke Puskesmas. “Berbuat baik bisa dimulai dari hal kecil dan jangan menunggu kaya” tutupnya.

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 02 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 01 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 03 lowresJembatan Harapan_Khairuddin Safri 04 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 05 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 011 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 06 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 07 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 08 copy

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 010 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 012 lowres

Jembatan Harapan_Khairuddin Safri 013 lowres

Berkhidmat Untuk Negeri

Berkhidmat untuk Negeri

Foto: Khairuddin Safri
Teks: Hesty Ambarwati

Dalam suatu kesempatan, seorang guru pernah bertanya “Peran apa yang ingin kau jalani untuk membangun peradaban?”
Pertanyaan sederhana yang membuat kami terdiam dan kembali bertanya “apa?”
“Apa?” kemudian berujung pada sebuah perjalanan dan pertualangan yang mengantarkan kami bertemu manusia-manusia pencerah. Manusia yang telah tuntas menjawab “Apa?”.
Apa yang mereka lakukan sederhana, namun bermakna. Mereka adalah manusia biasa dengan karya yang luar biasa. Kerja-kerjanya dalam senyap. Berkhidmat untuk Negeri.
Komunitas adalah kendaraan mereka untuk berkhidmat kepada negeri. Kerja mereka bukan tentang “suara” tapi berbakti kepada negeri, membumikan kebaikan dengan nafas yang lebih panjang. Bukan kerja-kerja “hit and run” tanpa jejak.
Bagi para Change Maker ini, komunitas bukan sekedar tempat “ber-haha hihi”, tapi melalui wadah ini mereka mencurahkan hati, menajamkan pikiran, menyingsingkan lengan baju, berbaur, merendahkan hati dan bergandengan tangan dengan banyak pihak- berkolaborasi- untuk kemaslahatan ummat. Sederhana saja, mereka memulai dengan apa yang mereka gelisahkan, dan mereka mampu kerjakan.
Adalah Muhammad Arif Kirdiat, membangun jembatan di pelosok-pelosok desa melalui komunitas Relawan Kampung. Jembatan yang memberikan efek luar biasa. Tak ada lagi anak-anak meniti seutas tali menyebrangi sungai deras untuk pergi ke sekolah.
Adalah Baron Norwendo, bergandeng tangan dengan komunitas-komunitas di Depok menyemarakkan Taman Kota dengan kegiatan yang positif melalui FREAK Depok dan Taman Bacaan di Taman Lembah Gurame, sebuah taman di dekat rumahnya. Pemandangan Muda-mudi “mojok” berduaan di taman remang-remang berganti dengan kegiatan belajar, berkreasi dan berkarya dari segala lapisan usia.
Adalah Reza Milady, menyulap sampah yang menjijikan, bau, kumuh dan kotor menjadi pundi-pundi kebaikan dan bermanfaat ekonomi untuk masyarakat pra-sejahtera. Melalui Bank Sampah Ta’awun ia berkarya.
Adalah Tatiek Kancaniati yang menyulap desa biasa menjadi luar biasa beromset 2 Milyar Rupiah per Bulan. Melalui Kampung Wisata Tegalwaru ia mengabdi pada desa kelahirannya.
Dan kemudian pertanyaannya bukan sekedar “Maukah berkhidmat untuk rakyat?”, tapi “Dengan cara apa kita berkhidmat untuk negeri?”.

Arif Kirdiat – Relawan Kampung Baron NOrwendo - Freak Depok

Arif Kirdiat – Relawan Kampung

Baron NOrwendo – Freak Depok

Baron NOrwendo – Freak Depok

Reza Milady_Bank Sampah Ta’awun

Reza Milady_Bank Sampah Ta’awun

Tatiek Kancaniati – Kampung Bisnis dan Wisata Tegalwaru

Tatiek Kancaniati – Kampung Bisnis dan Wisata Tegalwaru

 

Nantikan cerita lengkapnya…….

 

 

Gentle Birth bukan Mie Instan

Maaf disensor :p. Bersalin sambil bercanda-canda dan ketawa-tiwi bareng bidan itu sesuatu :D

Maaf disensor :p. Bersalin sambil bercanda-canda dan ketawa-tiwi bareng bidan itu sesuatu 😀

“Saya ingin melahirkan tanpa rasa sakit, gimana ya caranya?”

Kalo ada yang jawab dengan cara “Gentle Birth” rasanya pengen saya lempar pake lensa Nikon seri Nano. Saya bukan praktisi Gentle Birth (GB), bukan juga bidan atau doula yang mendalami GB. Tapi saya ingin sedikit sharing tentang apa yang saya rasakan dan saya baca atau saya diskusikan dengan praktisi tentang GB.

GB bukan obat bius yang bisa menghilangkan nyeri persalinan. Klo dulu saya sempat berdiskusi tentang pro kontra GB dengan syariat Islam, yah saya ga akan membenturkan prinsip GB dengan prinsip Islam…karena memang ga ada yang perlu dibenturkan (kalo ada metode yang menurut kita bertentangan…misalnya hypnobirthing ya ga usah dipake…kita mengenal Dzikrullah kan?. masih ada banyak metode lainnya yang bisa ditempuh). GB sama sekali tidak menafikan unsur nyeri dalam persalinan begitupun Islam mengakui bahwa sakit dalam persalinan adalah niscaya.

So, klo mau lahiran tanpa rasa sakit…ya gimana ya, dibius aja gitu? :p

Jadi apa dong GB?

Gini…gini. Ini menurut pemahaman dan pengalaman saya ya. GB adalah prinsip bukan metode. GB adalah prinsip yang menjaga agar persalinan dapat dilakukan dengan alami dan minim trauma. Trauma pada ibu ataupun pada bayi. Pernah denger kalimat ini “ga mau lahiran lagi ah,,hiiii ngeri” atau melihat ibu dengan Baby Blues Syndrome atau Post Partum Depression?. Nah..hal-hal seperti itulah yang dijaga oleh GB agar tidak terjadi pada ibu.GB itu bukan hal instan. Kurang lebih, 9 bulan adalah masa penggemblengan dan saat persalinan tiba maka masa ujian-pun tiba.

GB bukan Mie Instan

9 bulan kehamilan adalah masa untuk saya mempersiapkan dan mematangkan diri. Setidaknya ada tiga hal yang harus dipersiapkan:

1. Jiwa

Mempersiapkan dan mematangkan jiwa. Bahwa kehamilan bukan hanya tentang sperma membuahi sel telur dan menjadi janin kemudian lahir menjadi bayi. Kehamilan adalah tentang betapa Maha Besarnya sang Pencipta, Allah SWT. Kehamilan adalah keagungan sang Pencipta, bahwa Allah memiliki desain Maha dahsyat dan Maha Rumit tentang penciptaan manusia. Bayi yang kita kandung tidak bisa memilih akan dititipkan di rahim ibu yang bagaimana, dilahirkan oleh ibu yang seperti apa dan dibesarkan oleh orangtua yang bagaimana, oleh karenanya ia adalah amanah dari Allah untuk kita jaga dan didik agar tetap menjadi hambaNya yang setia.

So, mematangkan jiwa adalah bagaimana jiwa semakin dekat dengan Allah. Dan jiwa yang dekat denganNya akan tenang menghadapi semuanya.

Terus…yang saya pahami lagi, janin tidak diperlakukan sebagai objek, ia adalah subjek. Ia bisa diajak diskusi, bahkan dirayu. Pada beberapa persalinan..seringkali orangtua atau tenaga kesehatan merayu janin “de, perlahan lepaskan lilitannya ya”, “ayo masuk ke panggul ibu”, dll

2. Pikiran

Jadilah ibu yang haus akan ilmu tentang kehamilan dan persalinan. Pada kelas prenatal yang kami (saya dan suami) ikuti, kami membahas tentang apa itu nyeri persalinan, kenapa nyeri persalinan itu ada, bagaimana mengatasinya, dll. Kenapa hal itu penting untuk dibahas? agar ibu menjalani persalinan dengan sadar…bahwa nyeri dalam persalinan hadir bukan tanpa sebab, ia adalah mekanisme tubuh untuk mengirim bayi mungil nan lucu ke dunia.

Saya juga terus mencari ilmu tentang bagaimana kehamilan itu, berat badan normal bayi, asupan gizi ibu hamil, bagaimana kerja tubuh selama kehamilan, bagaimana janin berkembang di dalam rahim, sukses memberi ASI, kondisi-kondisi kegawatdaruratan selama kehamilan dan persalinan serta penanganan medisnya. Ilmu ini membuat kita tidak cepat panik, dan mengambil keputusan atas dasar ilmu dan pertimbangan yang matang.

Bidan saya pro GB…walaupun prinsip persalinan kami adalah menunggu dengan sabar- karena bayi tahu bagaimana ia harus terlahir di dunia- tidak lantas membuat bidan saya lupa mengecek denyut jantung bayi secara rutin (maklum, saya butuh waktu +/- 6 jam dari pecah ketuban sampai persalinan, namun Alhamdulillah denyut jantung bayi  baik). Jika kondisinya masih baik-baik saja untuk dilakukan persalinan normal, maka diusahakan untuk normal. Tapi klo membahayakan dan harus segera menjalani SC, kenapa tidak?

3. Raga

Ya..persiapan fisik. Hamil bukan alasan untuk kita tidak beraktivitas dan memberdayakan tubuh untuk mempersiapkan persalinan yang mudah dan spontan. Seorang ibu di grup Gentle Birth untuk Semua bahkan membuat tabel “latihan selama kehamilan”

Tabel latihan kehamilan

Ya gitu deh…selamat berpetualang dan menikmati masa-masa kehamilan dan persalinan anda yang indah :D. Persalinan yang indah butuh ikhtiar yang purna ya mak, selanjutnya mari memasrahkan diri pada Allah Sang Penggenggam jiwa

#CMIIW

Lebih Dekat Karena Kamera

Saya pernah bahas kan..betapa saya kesulitan untuk bersosialisasi dengan makhluk sejenis manusia? baca disini yah. Ini momennya udah jadul banget sih, waktu lagi Pilpres. Ceritanya, tetangga saya adalah timses Prabowo – Hatta. Karena mereka tau suami saya fotografer, sekaligus simpatik ke Prabowo – Hatta #eh, jadilah mereka minta tolong untuk difotoin sebagai timses cabang Ujung Menteng. Singkat kata, halaman depan rumah mendadak jadi studio mini :p.

Karena sesi pemotretan ini cukup heboh (pake lampu studio segala), hingganya membuat para tetangga keluar dari rumah masing-masing dan menonton aksi kami. Dan, menurut saya, ini adalah momen langka untuk bisa bercengkrama dengan para tetangga. Ada perkembangan topik selain bertanya “budhe, tukang sampah udah dateng?” atau “darimana bu?” :p.

Alhasil, iseng-isenglah saya foto ibu-ibu tetangga ini..sambil malu-malu..hehehe

SAF_6158

Mbrojol di Metta Mother Care (MMC)

Saya selalu takjub dengan cara Allah memperkenalkan saya dengan Tante Bidan ganteng bernama Yuliecana Mekanik (bukan nama sebenarnya). Bermula dari acara prenatal yoga yang diadakan oleh komunitas Gentle Birth untuk Semua (GBUS) di Taman Menteng. Kami hanya saling tatap saat beliau mengecek tekanan darah saya *gile romantis*. Ga saling kenalan, ga saling ngobrol jauh.

Sambil terus googling-googling tenaga kesehatan yang pro gentle birth untuk lahiran nantinya, saya mendapati nama tante yuli disana. Tante Yuli praktek di Tambun – Bekasi. Hah, Bekasi tau kan sejauh apa Bekasi dari Jakarta? :p, awalnya sempat pupus harapan bisa lahiran dibantu bidan pro GB. Tapi, mengingat saya butuh diskusi lebih dalam seputar kehamilan, persalinan dan GB..maka saya pedekate dan sksd-lah dengan beliau.

Ga disangka, mengetahui bahwa saya punya kamera dan ngakunya bisa motret padahal mah ga :p. Beliau minta tolong ke saya untuk motretin tempat praktik barunya. Itulah dia Metta Mother Care, terletak di Graha Harapan Bumyagara – Tambun dekat kolam renang (lupa alamat pastinya).

Metta Mother Care

Metta Mother Care

Pertama kali menginjakkan kakinya, saya jatuh cintaaaah. Suasananya itu loh, ga kaku kaya tempat praktek kesehatan pada umumnya. Berasa di rumah sendiri. Yang paling mengagumkan dan membuat saya berkata “yes” untuk lahiran disini adalah: ruang bersalin menjadi satu dengan ruang inap dan ruang bayi (room in). Semuanya demi menjaga privasi.

Maklum, berbagai gaya dan pose persalinan bebas dilakukan oleh sang ibu, dari mulai berdiri, jongkok, setengah tiduran, miring, bebaaassss. Hebohnya lagi, karena pasiennya ga bejubel kaya di rumah sakit (waktu itu saya lahiran sendirian disini), so 3 bidan menangani saya dengan sabarnya. Telaten ngelusin punggung dan panggul, relaksasi, nganget2in punggung saya pake buli2 karet, dll.

Sekarang ranjang lahirannya diganti spring bed :D..berasa di rumah

Sekarang ranjang lahirannya diganti spring bed :D..berasa di rumah

Nah, selain ruang persalinan yang privat, hingganya memungkinkan kita untuk ga denger ibu sebelah lahiran :p..ruang konsulnya juga ga kaya di rumah sakit. Nyaman deh 😀

HES_4753

Ini bukan saya :p, tapi Bunda Jasho yang sedang persiapan VBAC

Ini bukan saya :p, tapi Bunda Jasho yang sedang persiapan VBAC

Ada fasilitas apalagi yah..hmmm, oh iya ada kelas prenatal yoga juga

MMC-6024

Ngegaya dulu..kayanya udah pada lulus lahiran semua.

Abis Yoga, ngegaya dulu..kayanya udah pada lulus lahiran semua.

Nah ini yang paling kece dari semuanya….Ruang massage dan relaksasi. Yeay. Wajib nyobain massage untuk ibu hamilnya deh, dijamin rileks dan tidur dengan indahnyaaa. Tau lah ya, gimana nyerinya itu punggung menopang adik bayi di dalam perut :p

MMC-4551 copy

Ya gitu deh…jadi pengen lahiran lagi :p. Yang penasaran kisah persalinan saya monggo mampir disini *pede tingkat dewa*

Uji Coba Motret Bayi

Itulah takdir yang harus dijalani oleh Rana Arkananta Safri. Usianya baru saja 3 bulan, tidak bisa memilih akan dilahirkan oleh Ibu seperti apa dan dibesarkan oleh orang tua macam apa. Semua adalah kehendak Allah, Tuhan yang senantiasa kami kenalkan padanya. Rana, bertakdirkan memiliki orang tua tOekangpoto, berprofesi sebagai fotografer, dan memiliki passion di dunia fotografi. Dan Rana, belum bisa protes kalo ternyata dirinya, sejak proses persalinan hingga usianya 3 bulan, selalu menjadi bahan uji coba orangtuanya *hahahaha*.

Setelah sukses diculik ke taman BKT, Rana kami geletakin di depan pintu rumah :p. Bersabar untuk jadi bahan percobaan kami.

Rana. Baby Photo shoot1

Rana. Baby Photo Shoot2

Rana. Baby Photo Shoot3

Rana. Baby Photo Shoot4

Rana. Baby Photo Shoot5

Narsis di BKT

Setelah selalu membandingkan kekecean Jakarta dengan Bandung. Setelah mumet liat Ridwan Kamil menyulap ruang-ruang publik menjadi tempat yang indah lagi seru. Setelah berkali-kali hati saya gagal move on dari Bandung. Setelah saya harus menyadari dan bersyukur atas takdir saya sebagai Warga Negara DKI Jakarta.

Ternyata, dipinggiran aliran sungai BKT (Banjir Kanal Timur), hanya beberapa menit dari rumah saya di Ujung Menteng – Cakung. Terdapatlah sebuah taman yang indah rupawan. Jejeran jembatan kayu, dengan background aliran sungai BKT -yang jauh lebih bersih dibandingkan Banjir Kanal Barat yang hitam pekat- dan sawah. Ga sengaja kami mendapati taman baru ini, disela jalan-jalan sore, nyasar-nyasar ke Marunda. Yah, masih belum jadi total sih…tapi ini indah. Pas untuk narsis-narsisan, pas untuk olahraga, pas untuk main dengan keluarga.

Tuan suami yang udah blusukan ke Jakarta, lebih lama daripada Jokowi berkata “Nah, harusnya ruang-ruang publik itu ada dipinggiran Jakarta aja. Biar masyarakatnya ga harus berbondong-bondong ke pusat dan bikin macet. Karena dekat rumahnya ada tempat buat refreshing”. Daaaan ini alam, bukan lagi Mall :p

Keterangan: Bangun tidur, abang Rana langsung digotong buat narsis bareng emak babehnye

Terimakasih kepada tripod yang sudah mau fotoin kita bertiga. Bapake Rana, coba itu beli shutter release biar ga pegel bolak-balik mencet shutter :p

BKT_baby photo shoot1

BKT_baby photo shoot2

BKT_baby photo shoot3

BKT_baby photo shoot4

Proud to be Ibu

“I made you, but you made me a mother” [boba.com]

Adalah hal yang wajar jika terkadang saya rindu bercampur iri saat melihat teman-teman yang belum berkeluarga dapat beraktivitas dengan bebasnya. Bermimpi dengan bebasnya. Dan bebas memilih cara untuk mewujudkannya tanpa terlalu banyak pertimbangan.

Adalah hal yang wajar, saat terkadang cerita 11 bulan lalu kembali mengusik pikiran saya. Saat selangkah lagi saya bisa bergabung bersama punggawa Indonesia Mengajar di kantor Indonesia Mengajar. Hanya selang 2 hari sebelum tanda tangan MoU, saya mendapati strip 2 muncul di alat pendeteksi kehamilan. Dan karenanya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ah, Papua, Aceh, dan pelosok negeri, jika saja saat itu saya tidak hamil dan menandatangai MoU, mungkin saya sedang menjelajahi pelosok negeri, menemui para Pengajar Muda dan anak-anak hebat Indonesia.

Adalah hal yang wajar, saat saya bercerita tentang mimpi-mimpi saya untuk membuat photo story kepada tuan suami, selalu berujung “Hmmmm…tapi kapan yah bisa terealisasi, pasti klo Rana udah lahir bakal repot”

Dan, adalah indah saat saya mampu berdamai dengan semuanya.

Waktu saya bilang iri sama teman-teman yang bisa bebas ngapain aja, tuan suami  bilang “istri juga hebat, disini lagi bangun peradaban”. Kalimat singkat yang membuat saya kembali merenungi banyak hal, dan memaknai arti Ibu.

Dan ternyata, kehadiran Rana justru memacu saya untuk belajar hal yang berbeda. Memacu saya untuk menjadi pribadi yang baik agar jadi panutan. Memacu saya untuk mengasah intuisi wanita yang selama ini hilang. Mengajak saya untuk melihat mimpi-mimpi baru yang tidak kalah indah dan pentingnya, membangun peradaban. Mengajak saya untuk memberikan deskripsi lain pada kata “Bahagia”. Dan mengajak saya untuk memaknai, bahwa pengorbanan bukan lagi pengorbanan tapi kepuasan melihat kebahagiaan seseorang bernama Rana Arkananta Safri yang sedang tumbuh dan berkembang.